Saturday, April 21, 2012

 21 April 2012                                      
TERDAKWA kasus teror pembantaian 77 warga Norwegia, Anders Behring Breivik, menyatakan mempelajari rencana pembunuhan dari kelompok radikal Timur Tengah, Alqaeda. Dalam persidangan di Oslo, Jumat (20/4), Breivik mengaku menjaring teror dari Alqaeda sejak 2006.

"Efek media, apa yang salah, apa yang benar, mereka yang memberi," kata Breivik.

Kejadian mengerikan pada 22 Juli itu diawali dengan aksi Breivik yang meledakkan sebuah bom dalam sebuah mobil barang di luar kantor pemerintah di Oslo. Dalam peritiwa awal itu, delapan korban jiwa melayang.

Dia kemudian pergi ke Pulau Utoeya dengan mengenakan seragam polisi dan melepas tembakan secara membabi-buta ke arah peserta perkemahan pemuda Partai Buruh Norwegia. Dalam serangan itu, 69 orang tewas, di antaranya 34 anak muda berusia antara 14 hingga 17 tahun. Puluhan lainnya menderita luka-luka.

Breivik mengambil ide untuk memakai seragam polisi dalam melaksanakan pembantaian setelah membaca situs milik Al-Qaeda. Dia juga meniru cara-cara pembunuhan dengan menonton film dokumenter konflik Irak dan Afghanistan.

"Yang paling sukses (organisasi teror) itu Al-Qaeda. Mereka melakukan aksinya dengan bom bunuh diri. Ini adalah kunci untuk menyukseskan resistensi," lanjutnya.

Breivik menggambarkan bagaimana ia belajar sendiri untuk mematikan emosinya ketika ditanya jaksa perihal empati terhadap orang lain.

"Kalian bertanya apakah saya punya empati dan emosi, kalian bisa berkata bahwa saya normal sejak saya pertama kali latihan, saat itu saya menghilangkannya melalui meditasi," ujarnya.

"Ini tentang kekejaman, aksi barbar. Saya tidak bisa memahami apakah itu harus diwartakan pada orang lain. Saya telah mencoba untuk menjauhkan diri saya dari itu," tambahnya.

Breivik mengatakan kepada pengadilan masalah yang dipertaruhkan adalah kebebasan berbicara. Menurutnya, sikap nasionalisme sudah dihilangkan sejak Perang Dunia Kedua.

Dia terdorong untuk melakukan kekerasan setelah tidak berhasil dalam beberapa cara damai untuk mengumandangkan pandangannya tentang multikulturalisme.

"Saya telah mencoba semua cara-cara damai, saya pribadi menemukan bahwa ini adalah sia-sia. Saya mencoba untuk melibatkan diri secara politik, menulis esai, dan tak bisa lolos ke editor. Kemudian hanya ada satu kemungkinan, yaitu kekerasan," kata Breivik.

Ketika ditanya apakah ia menganggap serangan terornya adalah perbuatan seorang pengecut, Brevik malah mengatakan perbuatan itu "paling mulia" untuk menantang militer Norwegia.

"Tapi ketika Anda menghadapi kekuatan besar, seseorang dipaksa untuk melakukan perang asimetris, dan satu-satunya yang Anda miliki kemudian adalah unsur kejutan," katanya.

Selain masalah multikulturalisme, Breivik juga mencemooh sistem kurikulum sekolah Norwegia yang dianggap salah.

"Anda akan mendapatkan orang yang mulai merenda dan memasak, dan anak perempuan harus belajar pertukangan. Ini adalah Marxisme," katanya.

"Jika Anda melihat dekat pada sistem sekolah Norwegia, kita akan melihatnya telah lepas dari pengetahuan akan kode kehormatan yang begitu penting di Eropa selama ribuan tahun. Kode kehormatan itu akan berhenti," katanya.

Ketika Jaksa bertanya apakah ia rasis, Breivik menjawab: "Saya anti-rasis."

Kuasa hukum Breivik, Geir Lippestad, telah memperingatkan bahwa kesaksian hari ini masih akan fokus pada pembunuhan 69 orang muda di Utoya Island. Dan ini kemungkinan besar akan menjadi hari terberat.

Pada sidang sebelumnya, kepada pengadilan Breivik mengatakan melakukan serangan senjata di sebuah kamp pemuda Partai Buruh di Pulau Utoya setelah rencana awal untuk menargetkan konferensi wartawan tidak berhasil.

Ia juga berharap bisa membunuh mantan Perdana Menteri Gro Harlem Brundtland dengan memenggal lehernya menggunakan pisau atau bayonet. Ia juga berencana akan memfilmkan pembunuhan tersebut dengan iPhone dan mengunggah video tersebut ke Internet.

Breivik mengaku berkonsentrasi untuk membunuh orang di atas usia 18. Karena menurutnya pembunuhan terhadap orang yang lebih muda akan mendapat kecaman keras.

Namun, ketika sebagian korban yang meninggal di bawah umur 18, Breivik tidak menyesali apa yang dilakukannya. "Saya akan melakukannya lagi," katanya.

Breivik menggunakan video game "Modern Warfare 2" sebagai latihan untuk mengetahui medan. Dia juga sering bermain game online "World of Warcraft" hingga 16 jam sehari.

Sidang diperkirakan akan berlangsung hingga 10 minggu. Lippestad mengatakan penting kepada kliennya bahwa orang melihat dia sebagai waras.

Para ahli telah memberikan pendapat yang berbeda tentang kewarasan Breivik, yang akan menjadi faktor dalam menentukan apa ia menerima hukuman jika terbukti bersalah. Pilihan dapat mencakup hukuman penjara atau membatasi dia untuk fasilitas mental.

Dia menghadapi ancaman hukuman 21 tahun penjara yang bisa diperpanjang sehingga berada di dalam penjara sepanjang hidupnya.

Ruang sidang untuk Breivik ini disengaja dibangun khusus dengan kapasitas 200 pengunjung. Sebuah dinding kaca ditempatkan untuk memisahkan para korban dan keluarga korban dari Breivik.

Sebagian besar keluarga korban tidak mau berkomentar terhadap persidangan Breivik yang disiarkan televisi itu. Ketua Hakim Wenche Elizabeth Arntzen menolak klaim persidangan Breivik yang ditayangkan itu adalah hak asasi manusia.

Lima hakim yang menangani kasus ini tidak ingin sidang Breivik dibumbi pandangan politiknya. Menurut mereka pengungkapan pandangan politik itu hanya mengalihkan perhatian dari masalah hukum sebenarnya.

Breivik mengatakan aksinya dimaksudkan untuk menyelamatkan Norwegia diambil alih oleh 'pasukan multikultural'. Ia ingin menyelamatkan pembersihan etnis Norwegia.

Dalam sebuah manifesto 1.500 halaman yang dibuatnya, Breivik mencerca imigrasi Muslim ke Norwegia. Ia mengatakan liberalisme Eropa dan Partai Buruh yang berkuasa di negaranya memungkinkan terjadinya "Islamisasi Eropa." (CNN/Wrt3)                                                  http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/04/20/88626/Anders-Breivik-Belajar-dari-Alqaeda/7                                           

                                                                                                            
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!