Saturday, January 26, 2013


Kick off sosialisasi rencana penerapan kebijakan penyederhanaan mata uang atau redenominasi rupiah yang dilakukan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, seolah menandakan keseriusan pemerintah dan bank sentral akan kebijakan ini.

Sosialisasi menjadi bagian yang paling penting dalam proses kebijakan redenominasi. Sebab, harus diakui banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami konsep dalam redenominasi. Ada yang menganggap dan menyamakan redenominasi dengan sanering (pemotongan nilai mata uang).

Beberapa pihak menganggap wajar jika masyarakat kebingungan soal wacana ini. Tidak hanya masyarakat awam, para bankir pun akhirnya dimaklumi jika masih diliputi kebingungan soal redenominasi.

Tapi ternyata, masyarakat di Bali sudah lebih dulu mengenal redenominasi atau penyederhanaan mata uang. "Kalau di Bali, sudah lama menghilangkan tiga nol dan mengganti dengan huruf K," ungkap pengamat mata uang Farial Anwar kepada merdeka.com, Sabtu (26/1).

Sebagian dari Anda mungkin pernah melihat daftar produk atau barang yang di akhir nominal menggunakan huruf K. Farial mengatakan, penggunaan huruf K diadopsi dari budaya asing yang terbiasa menyederhanakan untuk satuan ribuan. "Itu caranya orang barat sederhanakan. Lihat saja data-data ekonomi, laporan keuangan. Itu maksudnya ribuan," kata Farial.

Dia sendiri memiliki pengalaman dengan penggunaan huruf K untuk menyederhanakan harga. Pada mulanya, dia tidak mengerti maksud penggunaannya. Namun setelah diberikan penjelasan bahwa huruf tersebut adalah pengganti satuan ribuan, dia baru memahami.

"Tapi itu budaya barat dan tidak cocok untuk kita. Kalau kita pakai huruf K juga, lalu ini ada redenominasi, masyarakat akan tambah bingung," jelasnya.
sumber
Reactions:
Categories:

0 comments:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!